~Artikel Ilmiah Populer ini telah diterbitkan pada media cetak Jateng Pos~  

    Pada Februari 2020 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa Computational Thinking sebagai salah satu kompetensi baru yang akan masuk dalam sistem pembelajaran. Computational Thinking disebut kemampuan yang layak menjadi “C kelima” dalam keterampilan abad 21 selain Communication, Collaborative, Critical Thinking dan Creativity. Computational Thinking merupakan salah satu kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh seseorang, selain kemampuan dasar menulis, membaca dan berhitung, yang dalam penilaian Programe for Internasional Student Assesment (PISA) tahun 2018 untuk kategori membaca, Indonesia berada diurutan 6 dari bawah, menduduki peringkat ke 75 dari 80 negara.


   Istilah Computational Thinking Computational diperkenalkan oleh Seymour Papert pada awal tahun 80-an, kemudian dipolulerkan oleh Jeanette M. Wing tahun 2006. Computational Thingking dalam pembahasan ilmu komputer didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk dapat menyajikan suatu masalah dan solusi masalah tersebut dalam suatu pernyataan algoritmis yang dapat dieksekusi oleh komputer.
Banyak negara menyadari pentingnya Computational Thinking dalam pendidikan seiring begitu pesatnya perkembangan teknologi dan penggunaan komputer. Dalam lampiran Permendikbud no 37 tahun 2018 yang merupakan penyempurnaan kurikulum 2013 secara resmi dimuat istilah Computational Thinking sebagai salah satu kompetensi dasar dalam kurikulum Nasional yang dipelajari dalam mata pelajaran Informatika pengganti mata pelajaran TIK. Salah satu usaha untuk memperkenalkan Computational Thinking di Indonesia dilakukan oleh Tim Olimpiade Indonesia (TOKI) yang sejak tahun 2016 mengadakan Bebras Challege, sebuah kompetisi dalam aspek pemecahan masalah menggunakan Computational Thinking. Bebras Challege Indonesia adalah kompetisi yang dilaksanakan secara online dan serentak dengan memberikan soal-soal yang dipersiapkan dalam workshop Bebras Internasional.


   SMP Negeri 19 Purworejo pada pekan tantangan Bebras bulan November 2019 mengikutkan siswa-siswinya untuk mengikuti tantangan Bebras serentak se Indonesia. Tantangan dilaksanakan secara online, untuk kategori penggalang (SMP) siswa diberikan 12 soal yang harus diselesaikan dalam waktu 45 menit, soal-soal tantangan Bebras bermuatan Computational Thinking yang mengambil ruang pengetahuan yang diminiaturkan pada situasi sehari-hari, secara teknis penyelesaian tantangan Bebras bermuatan Computational Thinking memiliki empat langkah yaitu 1). Dekomposisi Masalah, 2). Menemukan Pola, 3). Abstraksi dan 4). Penyusunan Algoritma.
Dengan tantangan Bebras siswa diajak mengasah keterampilan berpikir untuk menyelesaikan persoalan melalui pendekatan contructionism terkait informatika dalam kehidupan sehari-hari, yang tujuannya buka sekedar menang tetapi yang lebih penting adalah untuk belajar berpikir menyelesaikan persoalan. Soal-soal tantangan Bebras mempresentasikan konsep-konsep informatika, mudah dimengerti, setiap soal berdurasi 3 menit dan disajikan secara menarik dan lucu.


   Tujuan tantangan Bebras adalah memotivasi siswa untuk mulai tertarik dengan topik-topik informatika dan memecahkan persoalan dengan informatika, men-stimulasi minat siswa pada informatika, membentuk HOTS sebagai skill dan habit yang menjadikan kebiasaan pola pikir dalam memandang masalah lain temasuk pelajaran sekolah.


   Berfikir adalah kemampuan yang dapat dilatih, salah satunya dengan menkontruksi pola pikir berdasarkan pengalaman. Computational thinking juga dapat dipelajari dengan cara berlatih menyelesaikan persoalan-persoalan yang terkait komputasi, melalui persoalan sehari-hari. Lewat latihan yang menarik, siswa dapat menerapkan teknik yang cocok untuk mendapatkan solusi. Setelah berlatih diharapkan siswa dapat melakukan refleksi serta mengkontruksi pengetahuan berpikir, kemudian membentuk pola berpikir komputasi, yang semakin lama semakin tajam, cepat, efisien dan optimal.